• • ABOUT • • FOOD REVIEW • • HIGH SCHOOL LIFE • • TRAVEL • • UNIVERSITY LIFE • •

Sunday, November 23, 2014

Selamat Jalan, Emak

Hai, uda lama ga nge-post. Gua baru kelar UTS dan baru sempet nge-post, kali ini gua ga cerita soal makanan ato jalan-jalan, tapi gua bakal cerita tentang apa yang terjadi saat gua UTS, buat gua UTS kali ini emang UTS paling sedih buat gua.


Malam Rabu kemarin...
Gua lagi dalam masa UTS, dan malam itu gua lagi ngerjain tugas di kamar, adek gua ada di kamar gua dan tiba-tiba Mami dari pulang ngantor buru-buru langsung pergi lagi ke rumah Emak, dia bilang cicinya Mami nelpon untuk segera ke sana. Gua sendiri sebenernya bingung ada apa, tapi sama sekali ga ada kepikiran sesuatu bakal terjadi, jadi gua dan adek gua tetep lanjut nugas seperti biasa.

Sebelumnya, biar ga ketuker, Mami adalah nyokap gua, dan Emak ini adalah nyokapnya nyokap. "Emak" adalah panggilan nenek untuk orang Tionghoa Peranakan (Baba-Nyonya / 土生華人).

Jam 10 malam, tiba-tiba Mami kirim pesan di Whatsapp kalau Emak meninggal.

Gua sampe diem sebentar baca pesan di Whatsapp, terus baru kasitau adek gua. Mami cuma bisa cerita sepotong-sepotong di Whatsapp apa yang terjadi di sana. Dia bilang terakhir Emak abis pulang cuci darah di rumah sakit jadi lemas dan ga mau makan, makanya cicinya Mami langsung nelpon nyokap gua, dan terakhir di sana Emak ngeluh bilang dia pegal-pegal seluruh badan, dan akhirnya Mami pijitin Emak. Gak lama kemudian Emak mukanya jadi pucat dan kemudian pingsan.

Mami ga nerusin ceritanya, dia cuma bilang dosa dia banyak banget sama Emak.

Gua sendiri juga sampe bingung musti ngapain, gua yang malem itu harus lanjut nugas sampe bingung di depan laptop, mau buka file aja sampe jadi bingung sendiri kayak orang bego di depan laptop. Gua cuma bisa sedih, tiba-tiba semua memori tentang Emak semuanya muncul kayak film di kepala gue.

Emak dalam beberapa tahun terakhir ini jatuh sakit, dia sudah kena diabetes dari sekitar 10 taun yang lalu, tapi akhirnya semakin lama semakin lemah, jadinya dia beberapa taun ini lebih sering pakai kursi roda daripada jalan sendiri, dan setaun terakhir dia harus cuci darah di rumah sakit setiap hari Senin.

Emak ini orang yang perhatian, dan hampir semua cucu akan dia urus sendiri kalau anak mantunya lagi kerepotan, jadinya dia sering nginap ke rumah anaknya. Dulu dia juga sering nginap di rumah gua, untuk ngurusin gua dan adek gua pas SD, kalau pulang sekolah Emak selalu masak buat kita berdua.

Nyokap gua pernah cerita, dulu pas gua masih kecil, gua pernah nangis ga berhenti-henti dari pagi sampai malem. Nyokap gua super kelabakan takut gua kenapa-kenapa, katanya gua nangis seharian kayak lagi ngeliat setan ga bisa nyetop. Akhirnya malem-malem Emak dateng ke rumah dianter sama adeknya nyokap dan gua baru bisa selesai nangis.

Hati gua hancur setengah mati, orang yang paling baik dalam hidup gua hilang dan ga ada lagi. Malem itu gua cuma bisa berusaha bikin tugas sebisa gua sampe akhirnya gua tidur dengan kepala sakit.


Besok paginya
Gua bangun pagi-pagi buat ngelanjutin tugas kemaren, dan berkutat seharian ngirim e-mail 124 MB ke temen-temen gua lama sekali uploadnya. Abis beres, gua udah lepas tanggung jawab sama tugas gua karena sisanya temen-temen gua yang selesein, malemnya langsung ke Rumah Duka Jelambar.

Sepanjang jalan ke sana, gua ngerasa jadi orang paling bego sedunia. Yang ada di pikiran gua, dari taun-taun kemarin cicinya Mami bilang tolong foto acara ulang taun Emak pakai DSLR, tapi waktu itu gua ga bawa DSLR karena sejujurnya gua males aja karena cicinya Mami pernah ngejatuhin pocket camera gua secara nggak sengaja ke lantai + dia orangnya agak rempong, jadinya nanti gua bakal disuruh foto-fotoin terus. Oke, waktu ga bisa diputer balik, berasa bodoh setengah mati, susah sekali dari dulu ngilangin pemikiran gua yang dangkal, menyesal setengah mati.

Karena itu, gua berusaha mengabadikan semua yang ada dengan DSLR gua pada malam itu dan seterusnya, terlebih di sana keluarga gua hampir ga ada yang mengabadikan pakai digital camera sekalipun.



Sepasang lampion putih digantung di depan ruang duka, ditulis marga keluarga yang sedang
berduka dan umur almarhum, harus selalu menyala pertanda sedang berduka.

Meja altar, ditaruh berbagai makanan dan buah-buahan.

Cucu-cucu laki-laki membakar uang akhirat, tidak boleh berhenti sampai hari ketiga.

Ko Rocky, sepupu, melihat jenazah Emak di dalam peti.

Cici sepupu Engkong (suami Emak), gua manggil dia O-pho Cipulir
(O-pho : saudara perempuan Engkong, dia tinggal di Cipulir). Dia orang yang paling sedih
karena dia nangis sampai ga mau lihat peti jenazah.

Ji-ie (cici Mami nomor dua), membakar hio buat teman dan kerabat beragama Buddha yang
datang dan mau sembahyang.

Teman-teman Ji-ie yang datang.

Habis sembahyang, hio ditancapkan. Untuk keluarga dan nonkeluarga tempat hio dibedakan.

A-tio (suami cici Mami yang pertama), menyambut tamu yang datang.

Papi dan Mami.

Sepupu Mami dari pihak Engkong, serta istri.

Ji-ie.

Peter, salah satu sepupu yang ikut nginep jaga ruang duka.

Bobby, sepupu, membakar uang akhirat di samping peti Emak.

Bobby dan Marcel (adek gua), sebelum pulang.

Pegang tangan Emak untuk yang terakhir kalinya.


Hari kedua
Dilakukan proses tutup peti di siang hari, beda dengan orang Kristen yang biasa tutup peti saat malam kembang. Gua sendiri dari kampus setelah kumpul tugas UTS langsung buru-buru ke restoran, nungguin Papi siapin konsumsi buat di rumah duka, baru ke rumah duka.


Hari kedua, sebelum penutupan peti, menaruh uang akhirat dan kertas perak di sekeliling peti.

Mami merapikan rambut Emak.

Ji-ie, semasa Emak sakit dia yang paling banyak mengurus Emak.

Si-kim (istri koko Mami nomor empat).

Prosesi menuang minyak wangi di sekeliling peti.

Sebelum "Kui", berlutut dan sujud di depan peti.

Anak cucu mantu saat sujud + ga boleh liat peti jenazah pas ditutup.

Peti Emak yang udah ditutup.

Ji-ku (koko Mami nomor dua).

Setelah tutup peti, altar dihias dengan rumah-rumahan dan perabotan kertas, jadinya yang dilihat pertama langsung rumah-rumahannya, tidak berupa meja altar lagi.


Bhante yang memimpin paritta.

Keluarga yang beragama Buddha ikut membaca paritta.

Melakukan prosesi memutari peti jenazah.


Hari ketiga
Diadakan malam kembang atau Mai Song, seluruh famili dan kerabat datang ke rumah duka. Gua sendiri stop foto-foto karena pengen istirahat + udah ada fotografer kenalan om gua dua orang. Gua sendiri cuma terima tamu di sana. Ada beberapa temen yang datang ke sana, abis itu kenal-kenalan sama keluarga besar yang baru satu dua kali ketemu, dan sampe malem pun kayaknya gua juga cuma ngobrol sama satu sepupu jauh gua.


Hari keempat
Siap memberangkatkan peti Emak ke krematorium.


Foto anak cucu mantu di sekeliling peti Emak. O-pho Karawaci (adik Engkong
paling kecil, tinggal di Karawaci), bilang sama gua kalo Emak suka bilang sama dia
kalau dia meninggal dia mau dikelilingi seluruh keluarganya di sekeliling peti.

Foto keluarga terakhir bersama Emak.

Peti siap dimasukkan ke ambulans.

Dua mantu laki-laki menjadi perwakilan keluarga di ambulans.
Lampion dukacita yang udah dipadamkan digantung di depan mobil.

Iring-iringan rombongan keluarga, berangkat ke krematorium.

A-tio memegang abu dan dupa di nampan, sementara Papi memegang payung hitam.
Harusnya yang memegang anak pertama dan kedua, tapi bisa diwakilin mantu.

Bhante yang memimpin prosesi sebelum Emak dikremasi.

Prosesi tabur bunga di peti.

Engku Ceng-An, sepupu Mami dari pihak Engkong, dan istri.
Keponakan Emak yang setia datang dari malam pertama sampai mengantar kremasi,
keluarga besar gua sangat respek sama mereka.

A-ie (cici Mami yang pertama) yang menabur bunga.


Sedih banget pas detik-detik peti Emak mau dimasukin ke oven krematorium, gua sama saudara-saudara yang lain nangis, dari kecil diurus Emak dan orangnya udah ga ada. Kita semua sudah sampai di bagian "kui" untuk yang terakhir kalinya, kita cuma boleh sujud dan nunduk karena ga bole liat peti diangkat dimasukkan ke oven krematorium.


Mami dan anak asuh Emak, setelah peti Emak udah masuk di oven krematorium.

Keluarga besar dengan orang-orang yang mengantar, termasuk ada Emak Puri (mami dari A-tio,
tinggal di daerah Puri Indah), besan Emak yang paling sering ketemu dan liburan bersama Emak.


Hari kelima
Hari terakhir prosesi dukacita, yaitu larung abu di laut Ancol.


Hari kelima, bersiap melarung abu di laut Ancol. Keluarga dipecah menjadi dua, ada yang
ngambil abu Emak di krematorium dan ada yang menunggu kapal di Ancol.

Sembahyang sebelum berlayar ke tengah laut.

Rombongan dari krematorium datang, A-tio bawa sebagian abu Emak di kantong merah,
dia dipayungi payung hitam sejak menerima abu dari krematorium. Sebagian besar abu
Emak ada di kantong putih yang dibawa Ji-ku.

Ko' Akiong, petugas dari rumah duka yang bantu keluarga kita dari hari pertama,
dia yang jaga lilin di pinggir dermaga supaya ga padam saat berlayar.

Mulai berlayar ke tengah laut.

Sebagian kecil keluarga duduk di luar kapal agar seimbang, di dalam A-tio memegang dupa
dan Sa-ku (koko Mami nomor tiga) melantunkan doa selama di dalam speedboat.

Kemudi speedboat.

Si-ku (koko Mami nomor empat).

Abu ditebar bergiliran, Sa-ku menebar abu Emak + Ji-ku melempar bunga ke laut.

Papi menebar abu Emak.

Abed, cucu Emak yang paling kecil, menebar bunga buat Emak. Dia cucu Emak yang
terakhir diurus Emak selama hidupnya.

Go-ku (adik Mami).

Ji-ku, melihat abu Emak di laut dari kejauhan.

Abu dan bunga di laut.


Kehabisan kata-kata buat nulis post yang satu ini
Waktu hari keempat, habis kremasi, kita semua mengakhiri prosesi dengan pulang ke rumah Emak. Salah satu sepupu gua, Bobby, yang paling sering dimomong dari kecil bilang..
Bobby : Sekarang udah ga ada yang nawarin makan lagi deh kalo ke rumah Emak.

Biasanya, kalo ke rumah Emak, Emak suka duduk nonton depan TV atau paling sering duduk di meja makan. Kalau kita semua datang pasti disuruh makan dulu sama Emak,
"Di, uda makan belom?",
"Chan', ayo makan dulu",
"A Tan, uda makan belom?",
"Cel, ayo makan dulu kemarih".

Pulang larung abu, kita pulang lagi ke rumah Emak. Mami ngebongkar lemari baju Emak, dan nemu foto-foto lama, jaman Mami belum nikah.

Mami : Nih 'Di, foto Engkong sama Emak. Udah lama yah ga liat Engkong.
Gua sendiri ga tau sih musti ngomong apa, gua juga ga bisa bayangin kalo gua jadi Mami gimana. Dia adalah salah satu anak yang ada di samping Emak dan Engkong pas dua-duanya meninggal.

Gue sendiri udah mulai ga bisa nyusun kata-kata di post ini, gua bingung musti nulis apa lagi.

Untuk gua sendiri, memori gua tentang Emak yang paling ga bisa gua lupain waktu dulu gua kecil. Mami dulu sering ngumpulin resep-resep sama majalah-majalah masakan yang ditaruh di satu lemari. Gua pernah liat bukunya dan nemu majalah tentang pastry, di dalemnya ada resep cara bikin roti sendiri. Waktu itu gua yang masih kecil, jadi pengen banget bikin roti pas bacanya dan liat fotonya, gua pun langsung ke dapur dan langsung cari-cari bahan untuk buat roti sesuai majalah.

Setelah semua bahan sudah gua kumpulin, dan gua ngajak Mami untuk bikin roti sama dia, waktu itu Mami lagi capek dan dia ga mau bikin roti. Akhirnya gua ngerengek dan nangis sejadi-jadinya karena hari itu gua pengen banget makan roti, jaman dulu ga ada toko roti deket rumah gue, dan ga segampang sekarang nemu gerai roti kayak yang ada di mall.

Sampai akhirnya pas malem, nyokap gua ngajak gua ke rumah Emak. Pas gua masuk ke dapur, gua liat adonan roti yang sudah dibentuk kecil-kecil di atas tampah yang ditaruh di meja makan, dan ada Emak lagi ngulenin adonan roti di meja makan.

Emak : 'Di, kata Mami kamu nangis pengen roti, Emak bikinin roti buat Odi.

Gue senengnya bukan main waktu itu, gua inget gua pengen banget dibikinin roti rasa coklat kesukaan gua, dan Emak masukin coklat meises ke dalam roti adonan yang dia bikin. Pas masuk ke rumah Emak, liat di meja makan, jadi kebayang Emak lagi bikin roti di sana buat gua pas kecil.

Sampai sekarang kadang-kadang masi suka keinget Emak, yang akan selalu gue inget tentang dia, kalo gua pamit pulang sama dia, dia pasti akan selalu ngomong gini.

Emak : 'Di, sekolah yang rajin, yang pinter, biar nanti gede jadi orang sukses yah.

Doa Emak, akan selalu gua inget seumur hidup, dia adalah motivasi gua supaya gua ngejalanin studi gak main-main dari dulu. Emak di sana udah bahagia, udah ga sakit lagi. Semua kenang-kenangan akan selalu tersimpan di dalam hati, kalau kami punya Emak yang berhati besar dan penyayang.


Selamat jalan, Emak.
Selamat beristirahat dalam damai dan keabadian.